sexta-feira, 7 de maio de 2010

MEMORI SEBUAH MISTERI PETUALANGAN (8)

.....Melepas kelelahan, menata strategi


Di ujung sebuah waktu, di hari yang sama aku tiba di pangkuan ibu kelahiranku, kampung sunyi, dusun yang tak gemerlap dan rumah yang jelata. Ku tapak kembali dia dengan wajah yang baru, dengan hati yang tetap sederhana dan dengan kerinduan yang tak bertepi. Aku membekasi kembali jejak yang pernah hilang diantara kepingan waktu. Sore itu, September, 26, aku terhanyut dalam kasih sang ibu dan terbawa oleh tawa bahagia sang bapa. Sungguh bahagia!. Ku terima salam hangat dari anggota rumah, ku sambut senyum bahagia dari sahabat tetangga dan ku gayung makna kehidupan dari ibu bumi. Ditengah rangkulan penuh kasih dan di balik jendela jiwa, naluriku sebagai petualang mengingatkan aku agar segera melepaskan diri dari rangkualan itu. Aku menuruti suara itu karena argumennya sangat sederhana, tetapi masuk di akal, yakni supaya aku tidak terbiasa dan tidak terbius dengan semuanya itu, karena seorang petualang harus menunjukan keperkasaannya. Setelah ku simak maksudnya ternyata ada jawaban yang sedang menanti. Katanya, keunggulan seorang kembara bukan terletak pada jumlah orang yang mengasihinya, tidak juga diukur dari berapa banyak rangkulan kasih yang diterima, tetapi tergantung pada kemampuan untuk mengasihi, memberi dan berada bersama dengan setiap mereka yang dijumpai dijalannya. Aku belum terlalu mengerti maksudnya karena usiaku masih dalam fase perkembangan yang mana manusia masih membutuhkan kasih sayang.

Taat terhadap suara itu dan setia mengikuti indikasi ilahi, aku perlahan melepaskan rangkulan itu dan mulai duduk sambil bercerita tentang perjalananku yang belum terlalu lama. Dengan rasa ingin tahunya yang sangat besar, ayah mulai bertanya tetang jalan yang sedang kutelusuri, tentang ruang dimana saya meletakan kepala, dan tentang waktu dimana saya bernafas. Sementara ibu, sambil menatap iba, dengan air mata kasih, mempertanyakan tingkahku dalam hubungan dengan makan dan gizi. Aku kurus dan bermuka pucat. Ingin kuceritakan semuanya tentang duka seorang petualang di lembah Kuwu, tapi aku malu pada diriku sendiri, tidak mau mencemaskan mereka, takut kepada alam dan setia menuruti bisikan nurani. Rasa iba bercampur curiga sang ibu berawal dari kesan lamanya tentang diriku yang lazim kurang akrab dengan setiap santapan dan kurang berminat dengan setiap hidangan. Aku tak mau bersaksi sebagaimana adanya karena aku masih mencintai jalan itu. Aku sendiri kurang ingat kenapa saat itu ingin kembali bertualang di tempat yang sama, pada hal medanya kurang menyenangkan. Satu hal yang masih segar dalam ingatanku bahwa tempat itu, Sint Klaus School, cukup favorit di wilayahku, indah alamnya, sunyi tempatnya dan berkualitas pendidikan kembaranya. Orang tuaku pun tak pernah izinkan aku untuk mengalih haluanku. Ada kecocokan antara niatku dan keinginan orang tuaku. Ingin aku ceritakan kegetiran perjalanan itu, tapi aku masih memiliki kebijaksanaan, sembari mencari makna dibalik duri dan mengintip pelangi dibalik awan.

Malam semakin larut dan aku pamit sambil mengucapkan “good night-Boa noíte”, kemudian pergi meletakan kepala diatas bantal yang ibu pernah berikan sebelum aku keluar dari rumah itu. Aku terlelap diatas kelembutan bantal tempat manusia meletakan kepala. Lembut bukan karena padatnya kapas yang mengisi kekosongan, tetapi karena dia disiap oleh tangah kasih dengan hati bening seorang ibu yang mencintai buah hatinya. Lama aku tak merasakan itu dan inginnya terus tidur sampai sinar redup kembali. Aku cendrung mengikuti kata hati, namun naluri seorang kembara terus mengontrol dan bertutur agar tidak membiarkan diri dikuasasi oleh keinginan daging. Malam berlalu dan mentari merekah lagi seolah-olah mau membangunkan anak manusia yang lelap tertidur. Sulit bagiku untuk mengikuti gaya hidup lama. Saat itu aku baru sadar kalau hidup itu berubah, kalau waktu dan ruang bisa mengubah tingkah, kalau perjalanan menguak tabir kehidupan, kalau aku berwajah lain dan kalau bumi bersaksi setia. Aku diam dan beristirahat secara fisik namun jiwaku terus bergetar dan naluriku terus berjalan sambil memulihkan tenaga yang terkuras dan menyusun strategi baru untuk perjalanan berikutnya. Strategi kali ini sangat sederhana yakni melepas kenyamanan dan pergi bermain api, menepis ego dan pergi merajut waktu. Liburan pertamaku itu sungguh mengesankan sekaligus menyenangkan. Ada kecendrungan untuk bertutur, ada kemauan untuk bercerita dan ada keinginan untuk tinggal dan terus menetap. Namun apakah aku harus mengikuti keinginan daging?. Maksud petualanganku ialah bukan untuk menyangkal kalau aku dan manusia lain adalah berdaging lemah, paling tidak ada semangat untuk berjuang melawan kelemahan daging dan membiarkan diri dituntun oleh Roh. ...(8)

Sem comentários: